The Concept of Happiness
September 5, 2007 by Icca
Membicarakan cinta seolah tak ada habisnya,,
Dalam imaginasi kita lebih tepatnya imaginasi yang dunia berikan dalam pikiran kita, gambaran hidup Bahagia untuk Selama-lamanya ato lebih kerennya Happily Ever After adalah disaat kita menikah dengan sesorang yang kita cintai,,
Mari kita sebutkan kisah-kisah yang sudah sering kita dengar,, Cinderella, Sleeping Beauty, Snow White,, dan sejumlah Fairy Tales lainnya,, akhir ceritanya selalu diakhiri dengan kata-kata, *And they live happily ever after?* karena memang Fairy Tales selalu memiliki happy ending,, Sehingga bukan salah kalau pikiran kita pun beranggapan setelah kita menikah kita akan hidup bahagia selama-lamanya,, bahwa menikah adalah akhir dari segala tujuan hidup kita,, karena memang kita hidup untuk mencari kebahagiaan (Dunia dan Akhirat) kan? Tapi apakah kenyataannya begitu?!
This reality really hit me,, this is the reason why,, it brought out all the fears inside my head,, bahwa kepercayaan pada gambaran Marriage brings eternal happiness inilah justru bisa bikin kita tersesat (*kenapa gw jd sering pake kata-kata ini?*),,
Gw ga taw apa karena Culture budaya kita,, atau Kepercayaan Religi yang membuat cita-cita tertinggi wanita adalah menikah,, bahwa itu adalah tujuan akhir hidup seorang wanita,, setelah itu *Sudah*,,
Kita mungkin akan tertawa saat seseorang bertanya, “Apa kamu bahagia?” di hari pernikahan kita,, dalam benak kita tersirat jawaban “Ya iyalah,, aku sudah memimpikan hari ini sejak aku masih kecil!Dan sekarang menjadi kenyataan,, tentu saja aku bahagia!”,, Tapi bila pertanyaan itu diulang setiap hari setelah hari pernikahan kita hingga bertahun-tahun kemudian, apakah kita bisa selalu memberikan jawaban yang sama?
Ada kekeliruan deskripsi Live Happily Ever After disini,, menurut gw mestinya dibalik,, bukan They got married and they live ever after,, sehingga yang menjadi focus disini adalah Menikahnya,, seharusnya justru tujuannya yaitu Hidup bahagia selama-lamanya,, karena tujuan hidup manusia apalagi kalau bukan untuk meraih kebahagian,, hanya cara untuk mendapatkannya saja yang bermacam-macam,, termasuk menikah dengan seseorang yang kita cintai,, Konsep sederhana ini yang selalu dilihat terbalik oleh kita,, the challenge it’s not the marriage itself but maintaining the happiness of the marriage,,
Mungkin karena selalu melihatnya terbalik muncul keraguan-keraguan yang tiada henti-hentinya,, justru semakin lama hubungan dijalani semakin banyak keraguan berdatangan,, Ini yang selalu susah buat gw jelasin ke semua orang (termasuk ke mantan gw sendiri),, kenapa hubungan gw ma mantan gw yang fine-fine aja tiba-tiba kandas justru setelah gw ma dia ngambil langkah-langkah jauh,,
Bahwa kita punya perbedaan konsep kebahagiaan inilah yang bikin gw ga bisa Go on ma dy,, Karena ketakutan gw yang terbesar muncul ditengah-tengah perjalanan yaitu,, “Ga bahagia!”,,
Siapa yang bisa ngasi jaminan kalo gw bakal live happily ever after setelah gw nikah ma dy?,, Ga Ada!!Itulah kenapa gw nutup mata ma kuping,, terserah mereka ngomong apa, gw ga bisa mempertaruhkan kebahagiaan gw ke tangan orang yang ga ada keinginan untuk ngebahagiain gw,, karena gw ga ada keyakinan dia bisa ngebahagiain gw dan sebaliknya,, gw ga maw nyesel nantinya,, karena gw pun menginginkan hidup bahagia untuk selama-lamanya,, I want to achieve the ‘live happily ever after’,,
Semoga konsep pemikiran gw yang sederhana tapi crucial ini bisa memberikan cukup pengertian kepada semua orang yang membanjiriku dengan pertanyaan-pertanyaan seperti; “Kenapa?”, “kok bisa?”, “Ada apa?”,, dan lain-lainnya,,
Karena ini hidupku, biarlah aku menentukan jalannya, sehingga nantinya tak ada penyesalan,,
They said, Love has no fear,, If I still have fear in my heart, I guess I never really love then,,
Love me without fear
Trust me without questioning
Need me without demanding
Want me without restrictions
Accept me without change
Desire me without inhibitions
For a love so free….
Will never fly away.
~ by Dick Sutphen ~