A Time to say Goodbye
February 1, 2008 by Icca
Kita sering merasa bahwa kegiatan yang bersifat aktif lebih mudah dilakukan ketimbang kegiatan yang besifat pasif,, lebih baik menjadi subyek pelaku daripada obyek penderita,, seperti melepaskan lebih mudah dari pada dilepaskan,, Melupakan lebih mudah dari pada dilupakan,, dan Memutuskan ikatan cinta dengan seseorang lebih mudah daripada diputuskan oleh seseorang,,
Tapi sebenarnya ada keseimbangan nyata antara aktif dan pasif *me- dan di-*,, sehingga efek yang ditimbulkannya pun sama,,
Sebagai perumpamaan nyatanya adalah saat kita memutuskan sebuah ikatan cinta,, kedengarannya lebih mudah dilakukan,, karena keputusan ada di tangan kita,, we have the power which made us in stronger position,, seseorang yang diputuskan adalah korban,, tapi sebernarnya kita merasakan sakit hati yang sama besarnya, dan mungkin lebih besar karena kita merasakannya terlebih dahulu bahwa bagaimanapun juga hubungan cinta kita telah sampai di ujung jalan,, dan juga perasaan bersalah karena mempunyai perasaan itu yang membuat kita mengambil keputusan untuk berpisah,,
Itu pula yang aku rasakan,,
Begitu banyak waktu yang sudah aku lalui bersamanya,, membuatku mengenalnya dengan saat baik dan menyukai segala sesuatu tentangnya,,
Aku suka caranya merokok, walaupun aku benci seorang perokok,,
Aku suka saat dia selalu datang ke rumahku tanpa pemberitahuan,,
Aku suka bau badan yang dia tinggalkan,,
Aku suka bagaimana caranya melihat diriku yang seakan-akan mengatakan ‘Aku sayang kamu’,,
Aku suka melihatnya mengikat sesuatu dan mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna,,
Aku suka menghabiskan waktu bersamanya walau tak ada hal yang kita lakukan sekalipun,,
Dan yang terpenting aku ingat semua hal yang aku suka tentangnya,,
Melupakan segala hal yang kusuka tentangnya bukanlah sesuatu yang mudah seperti membalikan telapak tangan,, walaupun kenyataannya aku yang menginginkan perpisahan itu,,
Karena bagaimanapun juga harapanku sama besarnya dengan harapannya,, sehingga membutuhkan waktu yang tak terhingga untukku menanggalkan setiap bingkai harapan dari dinding hatiku,, sampai tak bersisa,, sampai menjadi sebuah kenangan yang hanya perlu diingat tanpa perlu diceritakan,,
31 Desember 2006
Untuk pertama kalinya aku dan dia bersama merayakan tahun baru,, dan aku menganggap bahwa melihat kembang api saat tahun baru dengan orang yang kita kasihi akan sangat membahagiakan,, dan disanalah aku dan dia menunggu detik-detik tahun berganti,, di pelataran parkir timur Senayan,,
Saat aku akhirnya melihat kembang api menari bergiliran menghiasi langit Jakarta,, begitu indahnya,, saat itulah aku merasakan dan mungkin juga menyadari bahwa aku melihat ujung jalan itu,,
Entah bagaimana itu bisa terjadi tapi keindahannya yang seharusnya membuatku merasa bahagia,, justru meninggalkanku dalam suatu kehampaan,,
Aku seperti melihat sebuah replika yang jelas tentang hubunganku dengannya,, Selama ini aku mempercayai bahwa aku dan dia berjalan untuk mencapai tujuan yang sama,, bahwa aku dan dia menginginkan untuk sampai kesana,,
Tetapi saat kita akhirnya sampai disana bukan kebahagiaan yang dirasa tapi justru kehampaan,,
Entah dimana salahnya,, tapi aku merasa kehampaan itu melebihi segala sesuatu yang aku percayai selama itu,, seakan-akan mengetahui bahwa tujuan yang selama ini berusaha kita capai,, saat mencapainya,, ternyata itu bukanlah tujuan kita,, bahwa tujuan itu sebenarnya tidak ada,,
Kenyataan itu meruntuhkan segala keyakinanku,, menghancurkan harapan-harapanku,, menghilangkan ‘cinta’ dalam hatiku dan menggantinya dengan keraguan,, keraguan yang berkepanjangan,, dan ketakutan atas keraguan itu sendiri,,
31 Desember 2007
Kembali aku menunggu detik-detik dimana tahun akan berganti dan segala sesuatu akan hanya tinggal masa lalu,, Di pelataran balai kota Surabaya aku berdiri tanpa dirinya lagi disisihku,, saat sekali lagi aku melihat keindahan kembang api bertaburan di legamnya angkasa raya,, aku bisa merasakan kebahagiaan saat melihatnya,, ia begitu indahnya sehingga aku tak bisa menemukan kehampaan dibaliknya,,
Seakan merupakan sebuah petunjuk,, dalam hatiku berbisik sebuah suara,, “Aku bisa bahagia,, aku bisa bahagia,,”
Dan aku melihat kebelakang untuk terakhir kalinya,, melihatnya,, melihat semua kebersamaan kita,, melihat kenangan kita,, yang semakin lama semakin memudar,,
Selamat tinggal,,
Selamat tinggal,,
Selamat tinggal,,
——————————————————————————————————————————–
I can see the pain living in your eyes
And I know how hard you try
You deserve to have so much more
I can feel your heart and I sympathize
And I’ll never criticize all you’ve ever meant to my life
You deserve the chance at the kind of love
I’m not sure I’m worthy of
Losing you is painful to me
I don’t want to let you down
I don’t want to lead you on
I don’t want to hold you back
from where you might belong
You would never ask me why
My heart is so disguised
I just can’t live a lie anymore
I would rather hurt myself
Than to ever make you cry
There’s nothing left to say but good-bye
There’s nothing left to try
though it’s gonna hurt us both
There’s no other way than to say good-bye
*Goodbye-Air Supply*