Laki-laki seperti dia,,
March 9, 2008 by Icca
Jakarta, 3 Maret 2008
Sore hari itu dipadatnya antrian busway di halte Senen,, aku dan saudariku memaksakan diri masuk ke dalam busway berdesakan dengan penumpang lain,,
Tak ada pilihan lain,, karena kita tak tahu berapa lama busway yang selanjutnya akan tiba dan juga kemungkinan besar keadaannya juga sama penuh,,
Di dalam sesaknya busway itu tidak ada bagian tubuh lain yang bisa digerakkan selain tangan untuk meraih gelang-gelang dan tiang memanjang sebagai pegangan di atas kepala,, dan kepalaku, untuk sekedar menengok, mendongak atau mengangguk,,
Lalu kumengalihkan pandanganku ke samping kananku,, Kumelihat seorang wanita bernasip sama sepertiku berdiri terhimpit,,
Satu perbedaan kami berdua yang mencolok adalah pegangan kami,, Sementara tumpuanku hanya gelangan yang kupegang erat di atas kepalaku,, dia bertumpu kepada lengan seorang lelaki di hadapannya yang dipegangnya erat,, aku menduga laki-laki itu adalah suaminya,,
Lelaki itu,, saat yang sama juga sedang menggendong seorang anak laki-laki -yang kemungkinan besar adalah anaknya- berusia kurang-lebih tiga tahun,,
Tertegun aku melihatnya,,
Lelaki itu,,
Suami wanita itu,,
Bahkan dalam keadaan sesederhana ‘berdiri terhimpit dalam busway’ tercermin sosok lelaki seperti apa dia,,
Satu tangannya menggendong anaknya, satu tangan lainnya berpegangan pada tiang di atas kepalanya untuk menjaga keseimbangan dirinya sendiri yang artinya juga untuk istri dan anaknya,,
Sesesaat aku mengganti tumpuan dari tangan kiri ke tangan kanan karena merasa tangan kiriku mulai lelah dan kebas sambil terus memandanginya,,
Aku menimbang-nimbang berapa kilogram berat anak lelakinya,, mungkin sekitar 15 kilogram,, lalu berat badan laki-laki itu yang cukup tinggi dan besar, mungkin 80 kilogram,, ada saat dia mengganti ‘pekerjaan’ antara tangan kanan dan kirinya dengan bantuan isterinya,, dan ringisan di mimik wajahnya,, tapi tak sekalipun kumendengarnya berkata, “berat”,, meminta bergantian menggendong anaknya dengan istrinya atau berniat menurunkan anaknya,, malahan dia masih sempat mengalihkan perhatian anaknya –dari keadaan kurang mengenakan- dengan menanyakan keadaannya atau pemandangan di luar jendela,,
Mungkin terlalu lama aku memandang sehingga obyek pandanganku ini pun merasa,, dia membalas pandanganku dengan senyuman,,
Begitu tampan,,
Ketampanan yang terlihat jelas dari sikapnya,,
Aku membalas senyumannya,,
Dan seketika itu aku merasa sangat jatuh hati pada laki-laki itu,,
Ya,, aku jatuh hati pada laki-laki seperti dia,,
Sekedar informasi lelaki itu baru menurunkan anak lelakinya setelah sampai di stasiun UKI,, dimana dia dan keluarga kecilnya begitu pula aku dan saudariku keluar dari busway yang penuh sesak itu,, Dari Senen-UKI mungkin memakan waktu sekitar setengah jam,,
Bisa dibayangkan bagaimana ‘rasanya’ mengangkat beban seberat 15 kilogram selama 30 menit non-stop ditambah berat badannya sendiri,,