Kau Buatku Menangis,,
July 7, 2008 by Icca
Hariku berlalu dengan
kewajaran seperti biasanya,, dimana aku bekerja di pagi hari, istirahat di
siang hari, dan dikahiri dengan bermain dengan teman-teman yang aku senangi
hingga larut malam,,
Di sela waktu seharian
itu, seorang lelaki mengirimiku sms secara berkala. Ada kalanya aku membaca
dengan seksama dan membalas, tapi sering kali juga aku hanya membaca dan
melupakannya hingga sms selanjutnya datang dengan isi yang berbeda,, terkadang
smsnya seperti mengejar-ngejarku dengan pertanyaan yang tak ada habisnya
sehingga membuatku sedikit ‘jengkel’,, tetapi jika tak ada jawaban dariku, maka
ia akan meneleponku,,
Pertanyaannya hari itu
memang sedikit janggal dari biasanya,, dia menanyakan dimana tepatnya rumahku,,
hingga warna pagar pun dia tanyakan. Karena saat menelepon, aku sedang
menyetir, kujawab sekenanya saja.
Sekian lama karena
disibukkan oleh pekerjaan baru, baru kali ini aku ‘menyisakan’ waktu untuk
bertemu dengan teman-teman ‘Akademos’ku,, begitu banyak hal yang ingin dibagi
sehingga waktu seakan terbang dengan begitu cepatnya,, Malam pun semakin larut.
Dengan berat hati aku berpamitan terlebih dahulu dari teman yang lain,
mengingat pagi sekali aku harus kembali bekerja,,
Lelaki ini masih juga
memburuku dengan sms-smsnya yang tak putus-putus,, sampai akhirnya aku berada
di rumah, dan ‘melaporkannya’ padanya.
Aku berhenti di depan
rumahku, keluar dan membuka pagar untuk diriku sendiri, memasukan mobilku, lalu
menutup kembali pagar rumahku dan menguncinya. Aku mulai memasuki rumahku dan
mendapatinya dalam keadaan gelap dan sepi seperti biasa. Aku terus berjalan
menuju kamarku yang berada di lantai atas,, adalah sebuah meja makan yang pasti
akan selalu aku lewati,, disanalah kutemukan rangkaian bunga tergeletak
diatasnya. Aku mengambilnya dan membaca kartu yang disisipkan diantaranya. “To:
My Angel” katanya,, entah sejak kapan keberadaanku di dunia disamakan bak
malaikat bagi seseorang???. Tapi justru dari situ aku tahu siapa pengirimnya.
Walaupun kutahu hati
ini masih tidak membiarkan dirinya untuk menerima sebentuk cinta secara pasif
maupun aktif, tapi ternyata keangkuhannya bisa juga diluluhkan oleh sebentuk
rangkaian sebuah bunga mawar putih dikelilingi oleh mawar merah jambu yang
menurut sang pemberi bermakna diriku dalam dirinya.
Tertegun aku melihat
rangkaian bunga itu,, mungkin karena caranya memberikannya membuatku terkejut, mungkin gerangan si pemberi
yang tidak kusangka-sangka akan melakukannya, dan mungkin juga ketulusan
hatinya yang tersirat begitu jelas,, Tapi yang pasti,, ada sebentuk perasaan
muncul yang diakibatkannya,, perasaan yang telah lama hilang sejak aku tidak
tinggal dengan orang tuaku. Perasaan yang kita dapati setiap kita pulang ke
rumah hanya karena melihat lampu dan televisi yang masih menyala, mendengar
dentingan sendok dan garpu yang beradu yang menandakan ada kehidupan di
dalamnya, ada sosok yang kita kenali disana,, menunggu. Perasaan yang bisa
mendamaikan hati, menyapu semua peluh, dan membawa kelegaan karena telah berada
di rumah. Iya,, benar,, keberadaannya seakan memberi perasaan padaku bahwa “Kemana
pun aku pergi, disana ada seseorang yang menungguku untukku kembali”,, Di dalam
kegelapan dan kesunyian rumahku, aku pun mulai menangis.